Pengalaman Menjadi Moderator di Seminar
Masdesu – Halo hai, sob! Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah pengalaman yang menarik. Menjadi seorang moderator dalam acara seminar yang cukup besar di kampus. Jujur, saya belum pernah menjadi seorang moderator secara resmi sebelumnya. Pengalaman menjadi moderator yang pernah saya jalani hanya sebatas dalam diskusi atau rapat di kelas. Jadi, gugup sekali rasanya ketika hendak berbicara.Ketika saya di panggil saya gemetaran, bahkan ketika memegang microphone. Sempat sekali saya menjatuhkan microphone setelah saya memanggil pembicara. Demam Panggung, mungkin itu yang saya alami. Dan seperti orang kebanyakan, ketika melakukan kesalahan, saya hanya mencoba tersenyum malu.
“Cepetan beres, Ya Allah!”
Itu mungkin yang saya katakan dalam hati sembari tersenyum tipis menutupi malu.
Ditonton oleh ratusan orang (mahasiswa) membuat adrenalin memuncak, tak terkendali. Fokus sebagai moderator untuk mencatat, memahami, dan memperhatikan antusiasme peserta seminar adalah poin penting yang harus saya jaga namun sulit adanya. Berkali-kali saya hilang konsentrasi dan ketinggalan pemaparan yang disajikan oleh pemateri.
Ketika masuk sesi tanya-jawab pun, saya sulit menangkap pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh peserta seminar. Untungnya saya mempunyai notulen yang fokusnya sangat baik, Resi namanya. Dia mampu menangkap inti dari pertanyaan yang diajukan oleh penanya.
Dari sana saya memahami beberapa hal. Istilah “The first is the worst” mungkin benar adanya. Semua yang pertama kali kita lakukan mungkin akan menjadi yang paling menegangkan, menakutkan, dan membuat kita berfikiran bahwa itu adalah yang terburuk. Disitulah diri kita sebenarnya ditantang untuk memilih. Maju dan hadapi, atau mundur dan sesali?
Jangan pernah takut untuk memulai, karena dengan memulai lalu gagal kita akan belajar. Itulah yang dinamakan PENGALAMAN. Saya pun mengakuinya. Usai acara seminar tersebut, saya tergiur untuk mencoba menjadi seorang moderator lagi untuk mematangkan kemampuan saya menjadi seorang moderator.
Dukung dirimu sendiri untuk mampu melewati batas ketakutan, jangan pernah berhenti belajar. Jadilah pribadi yang selalu mencoba untuk TAHU, melakukan untuk BISA, dan merenungi untuk MENGERTI.
Mungkin itulah yang bisa saya bagikan tentang Pengalaman Menjadi Moderator di Seminar. Semoga pengalaman sederhana saya ini bisa membantu kalian semua dalam membangun karakter sebagai GENERASI MASA DEPAN SUKSES INDONESIA. Aamiin.

The first might be the worst, but it won’t be the last, will it? – Masdesu

